Tarekat dan Bonus Demografi

Jakarta – “Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya, Untuk Indonesia Raya.” Lirik lagu kebangsaan Indonesia Raya ini tentu kita hafal. Bagaimana tidak, sedari kecil sudah terkondisikan untuk menghafalkannya.

Jelas pesannya. Membangun bangsa dibutuhkan tubuh yang sehat, jiwa yang kuat, zahir dan batin. Jumlah penduduk Indonesia saat ini sudah hampir 270 juta jiwa. Jumlah terbesar ke-4 setelah Tiongkok, India dan Amerika Serikat.

Direktur Persyaratan Kerja Kementerian Ketenagakerjaan Siti Jubaedah dalam diskusi yang digelar Forum Diskusi Ekonomi Politik bulan lalu mengatakan  jumlah angkatan kerja saat ini sebanyak 136 juta jiwa, didominasi oleh pendidikan SMP.

Sementara Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyampaikan pada 2030-2040, Indonesia diprediksi mengalami masa bonus demografi. Artinya penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun).

Pada periode tersebut, penduduk usia produktif diperkirakan tembus 64 persen dari total jumlah penduduk yang diprediksi 297 juta jiwa. Jumlah yang fantastis untuk mengerek kemajuan suatu bangsa jika bisa dimaksimalkan. Bisa menjadi beban jika tidak mampu mengelolanya.

Tantangannya adalah kompetensi, produktivitas dan etos kerja yang mampu memenuhi kebutuhan industri. Tanpa ada upaya khusus meningkatkan kualitas penduduk, khususnya angkatan kerja maka puncak bonus demografi hanya sekedar lewat.

Data UNDP tahun 2017 terkait Indeks Pembangunan Manusia menempatkan Indonesia di peringkat ke-116 dari 189 negara. Di ASEAN Indonesia masih di bawah Singapura (9), Brunei Darussalam (39), Malaysia (57), Thailand (83) dan Filipina (113).

Banyak faktor yang memengaruhi kualitas penduduk. Salah satu yang memiliki peran signifikan adalah pendidikan yang terukur dan terencana.

Berlimpahnya sumber daya alam seperti migas, kekayaan laut dan hutan yang dibanggakan mulai habis. Di sisi lain pembangunan manusia belum meningkatkan kesejahteraan secara merata.

Melirik negara-negara maju, tanpa sumber daya alam, mereka bisa berkompetisi dalam persaingan global. Kualitas penduduk adalah kuncinya. Dihasilkan dari investasi jangka panjang dan terarah.

Sudah banyak yang dilakukan pemerintah dengan berbagai programnya sejak kemerdekaan hingga saat ini. Ada Gerakan Disiplin Nasional, Kejar Paket A, B dan C, Revolusi Mental dan sebagainya. Hasilnya, bangsa kita masih harus melakukan percepatan peningkatan SDM.

Semua bisa ikut memajukan kualitas penduduk. Sebagai pengamal tarekat, selain amaliah dzikir, apa lagi yang perlu kita siapkan untuk menyambut datangnya bonus demografi ?

Nugraha Romadhan, redaktur TQNNews

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...