Tarekat dan Kemodernan Ikhwan TQN Yogyakarta

Sebagian pengamat masyarakat Muslim di Nusantara meramalkan bahwa tarekat akan sedikit demi sedikit berkurang peminatnya dalam masyarakat modern. Namun, ternyata masih banyak tarekat yang tetap eksis di era modern ini. Bahkan senantiasa beradaptasi dengan kemodernan, seperti yang dilakukan oleh Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah (TQN) Pontren Suryalaya di Yogyakarta.

“Sebagai anak kandung proses rasionalisasi maka modernitas pun membawa keseharian praksis manusia modern menjadi absen terhadap dunia suprametafisik,” jelas Dr. H. Robby Habiba Abror S.Ag., M.Hum.

Tidak heran jika banyak pemikir yang beranggapan bahwa modernitas secara perlahan akan menyingkirkan dimensi religius dalam keseharian manusia. Baca juga…

Di tengah masyarakat modern, ikhwan tarekat ini masih terus eksis dan cukup banyak menarik peminat. Realitas eksistensi TQN tersebut tentu menarik untuk dikaji lebih lanjut. Dalam penelitiannya, Dr. Robby pun lantas menyimpulkan bahwa TQN Pontren Suryalaya di Yogyakarta adalah tarekat yang hidup dalam historisitas kemanusiaan.

Bagi para ikhwan TQN, relasi tarekat dan kemodernan bukanlah bersifat antagonis, melainkan simbiosis. Sehingga tercipta suatu corak keagamaan baru, yaitu tarekat modern dengan kegiatan-kegiatan yang sarat nuansa kemodernan dan kemajuan.

TQN Pontren Suryalaya dikembangkan pertama kali di Yogyakarta oleh Bapak Ace Partadireja. Sekitar tahun 1980-an, mantan Rektor UII tersebut membawa ajaran TQN ke Yogyakarta.

“Di tengah kota Yogyakarta yang sarat manusia modern, faktanya TQN tetap hidup bahkan banyak pengikutnya,” ulas Ketua Asosiasi Aqidah dan Filsafat Islam (AAFI) itu.

Lebih jauh dari itu, Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PW Muhammadiyah DIY menambahkan bahwa TQN Korwil Yogyakarta bahkan juga memperluas cakupan anggotanya menjadi tidak hanya kalangan masyarakat tradisional, melainkan juga meliputi kalangan masyarakat modern. Anggotanya mulai yang berpendidikan rendah hingga tinggi, masyarakat biasa hingga para pejabat, dan sebagainya.

Sejauh diamati, tidak ada perbedaan antara sikap ikhwan TQN Yogyakarta terhadap tasawuf dan kemodernan dengan pandangan para anggotanya.

Wakil Ketua Asosiasi Penyelenggara Pendidikan Filsafat Indonesia (APPFI) ini mengkaji tarekat dan kemodernan dengan fokus pada ikhwan TQN di Yogyakarta menyingkapkan pesan penting sebagai berikut:

Pertama, TQN di Yogyakarta adalah tarekat yang hidup dalam historisitas kemanusiaan dan dalam realitas kemodernan yang tidak terelakkan di tengah masyarakat.

TQN Yogyakarta tidak lantas memilih jalan menjauhkan diri dari kemodernan, melainkan justru menjadikannya sebagai salah satu ikhtiar untuk terus mengembangkan diri.

Tarekat ini menciptakan program khusus untuk menyesuaikan diri dengan komodernan, yaitu dengan program kursus tasawuf. Kolaborasi antara tarekat dan kemodernan yang terjadi dalam tarekat ini bukanlah bersifat antagonis, melainkan simbiosis. Baca juga…

“Dengan demikian, tidak heran jika, meskipun TQN hidup di lingkungan masyarakat modern Yogyakarta, ia masih tetap bisa eksis,” tambah Robby, aktivis KAHMI (Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam) DIY.

Kedua, dalam memahami hubungan antara tasawuf dan kemodernan yang memiliki paradigma utama rasionalitas, para anggota ikhwan TQN Yogyakarta umumnya berpendapat bahwa tidak ada pertentangan antara kedua hal tersebut.

Menurut ikhwan TQN Pontren Suryalaya ini, tasawuf sejatinya juga sangat menghargai keilmuan, dalam hal ini keilmuan rasional seseorang. Semakin tinggi keilmuan seseorang, maka akan semakin tinggi derajatnya di mata Allah Swt.

Selain itu, menurut penulis buku Tasawuf Sosial ini, amaliah tarekat itu bukanlah sesuatu yang membuat pengamalnya harus menjauh dari kegiatan-kegiatan dunia.

“Hal ini karena, amaliah tarekat sejatinya sangat sederhana dan dapat dilakukan secara istiqamah tanpa mengganggu aktivitas-aktivitas duniawi atau kemodernan,” jelas suami Hj. Nanum Sofia S.Psi., S.Ant., M.A, dosen Psikologi Klinis Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Dikutip dari Majalah Gontor Edisi 04 Tahun XIX dengan beberapa penyesuaian.

#tarekat #yogyakarta #tqn

Rekomendasi
Komentar
Loading...