Tarekat dan Korporasi Minus Nilai Sufistik

Korporasi yang tidak berlandaskan nilai sufistik akan menempatkan dan memperlakukan manusia hanya sebagai alat atau pun mesin. Tepatnya alat untuk memperkaya kaum pemilik modal dan mengabaikan peran sejatinya. Singkatnya manusia dijadikan alat untuk kepentingan kapitalisme.

Tuntutan dunia korporasi, serta kebutuhan akan inovasi dan daya adaptasi serta persaingan yang tinggi membuat manusia sering kali diletakkan secara tidak utuh dan tidak adil.

Akibatnya muncul problem-problem baik teknis maupun non teknis yang sebenarnya bersumber dari manusia itu sendiri.

Adanya persaingan yang tinggi antar korporasi, produktifitas yang menurun, beban kerja yang tidak manusiawi, fenomena saling sikut antar teman, hingga tuntutan kebutuhan dan realitas gaji, serta persoalan rumah tangga dan lingkungan mewarnai kehidupan insan korporasi.

Sehingga muncul apa yang disebut dengan problem psikis, kesehatan mental, problem fisik hingga ruhani. Insan korporasi akrab dengan stres, depresi, energi negatif, tidak ada gairah kerja, multi konflik, tegang, egois, serakah, bingung hingga kehampaan diri dan spiritualitas yang kering.

Singkatnya mengalami apa yang disebut dengan penyakit qalbu. Seperti riya’, nifaq, hasud, dendam, kufur nikmat, iri, dengki, takabbur, cinta dunia, tamak, kikir, gila pujian, khianat, hingga syirik.

Organisasi dan team work tidak akan berjalan dengan efektif dan efisien dengan kondisi yang demikian itu. Bahkan cenderung banyak menghabiskan energi untuk hal-hal yang tidak prioritas dan produktif.

Padahal jika dilihat lebih cermat, setiap korporasi adalah penjelmaan atau pengejawantahan dari SDM atau hati nurani orang-orang yang ada di dalamnya.

Bukan hanya itu, korporasi yang abai terhadap tujuan dan jati dirinya akan abai terhadap nilai-nilai kemanusiaan bahkan mengabaikan kesehatan dan kelestarian lingkungan.

Urgensi Tarekat dalam Korporasi

Tasawuf yang menggali aspek batin (esoteric) memiliki kedudukan dan peran yang strategis dan penting bagi peran kehidupan termasuk dunia korporasi.

Sebagaimana fitrahnya, manusia secara utuh ialah makhluk ruhani tapi juga sekaligus terdiri dari unsur jasmani. Tasawuf hadir untuk menjaga orisinalitas jati diri manusia itu sendiri.

Tasawuf adalah salah satu dimensi dari komponen ajaran agama Islam yang berperan dalam mengembalikan manusia sesuai dengan tujuan penciptaaannya.

Sehingga di tengah hiruk pikuk dunia, manusia sebagai makhluk spiritual tidak terlalu terseret pada kepentingan materialisme dan hedonisme yang justru mengikis sisi kemanusiaan dan melupakan tugas utamanya sendiri.

Sisi batin manusia yang teramat mendapat perhatian dalam tasawuf sebenarnya diilhami oleh sabda Nabi Muhammad Saw. Apabila qalbu (sisi batin) itu baik, maka jasad (sisi lahiriah) nya juga baik, dan apabila buruk qalbunya, buruk pula sisi luarnya.

Bukan hanya itu, perjuangan dalam Islam yang diistilahkan dengan kata jihad, yang terbesar ialah dimulai dari dalam. Saat itu Nabi Muhammad Saw berkata kepada para sahabatnya. “Kita pulang dari perang yang lebih kecil menuju perang yang lebih besar.”

Para sahabat saling berpandangan dan bertanya-tanya. “Bukankah perang yang baru dilalui adalah perang yang besar?” Salah seorang sahabat kemudian bertanya, “apa perang yang lebih besar itu wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “perang melawan hawa nafsu.”

Sisi dalam manusia yang begitu mendapat perhatian dari Rasulullah Saw ini menjadi pesan betapa pentingnya tasawuf dalam kehidupan sehari-hari termasuk untuk membenahi dunia korporasi.

Maka posisi tarekat idealnya dilihat sebagai sebuah metode penyucian jiwa dan pengembangan potensi sekaligus mengembalikan paradigma manusia sesuai dengan fitrahnya.

Yang kemudian, hati nurani sebagai pusat ruhani manusia diharapkan bisa mentenagai dan memperbaiki iklim korporasi menjadi lebih baik, sukses dan powerful.

Rekomendasi
Komentar
Loading...