Tasawuf dan Resiliensi Terhadap Stres

Dalam Merriem-Webster Dictionary, kata resilient berarti mampu menahan guncangan tanpa perubahan bentuk atau wujud dari baik menjadi kurang baik (deformasi) secara permanen.

Resilient juga berarti mampu pulih dari atau menyesuaikan diri dengan kemalangan atau perubahan dengan mudah. Kemampuan ini amatlah dibutuhkan, karena dalam hidup tak jarang menemukan situasi yang tidak terduga terjadi bahkan di luar harapan.

Sehingga dalam dunia psikologi resiliensi dikenal sebagai kemampuan untuk mempertahankan stabilitas psikologis dalam menghadapi stres (Keye & Pidgeon, 2013).

Dengan kalimat lain, resiliensi ialah kemampuan untuk cepat bangkit kembali dan memberi respon tepat dari kondisi sulit.

Semakin baik tingkat resiliensi seseorang, maka semakin baik pula responnya dalam menghadapi stres. Karena hampir mustahil dikatakan manusia tidak mengalami stres dalam kesehariannya.

Stres dan Gejalanya
Stress sendiri merupakan persepsi psikologis maupun fisiologis ketika menghadapi tekanan baik dari internal maupun eksternal yang melibatkan seluruh sistem tubuh, perasaan dan perilaku seseorang.

Orang yang mengalami stress biasanya secara fisik mengalami sakit kepala atau pusing, nyeri otot, nyeri dada atau detak jantung lebih cepat.

Sedangkan secara emosi, orang yang mengalami stress memiliki gejala sulit fokus, khawatir terus menerus, mudah lupa, hingga merasa kewalahan.

Adapun secara perilaku, gejala stres bisa diketahui dari sikap orang yang mudah marah, lebih sensitif, produktivitas menurun, maupun adanya perubahan pola makan yang terlalu banyak atau sedikit.

Dengan mengetahui aneka gejala tersebut, kita bisa melakukan scanning terhadap gejala stress yang tengah melanda.

Sedangkan dilihat dari jenis penyebabnya, stres ada yang bersifat mendadak atau pun sementara (short term) dan ada yang bersifat jangka panjang karena terjadi berulang kali dalam waktu yang lama (long term).

Macet ketika akan pergi bekerja, telat datang ketika meeting adalah contoh situasi yang bisa menyebabkan stress sementara. Sedangkan stres yang bersifat jangka panjang semisal masalah rumah tangga atau pun lingkungan kerja yang tidak menyenangkan.

Tasawuf Meningkatkan Resiliensi

Sejak awal disebutkan bahwa stres adalah persepsi psikologis maupun fisiologis seseorang ketika menghadapi tekanan atau situasi yang tidak diinginkan.

Seorang Sufi besar Ibnu Athaillah As Sakandary misalnya selalu menekankan agar berpegang teguh kepada Allah bukan berpegangan atau bergantung kepada selain-Nya seperti mengandalkan amal, usaha atau pun aktivitas yang dilakukan.

من علامة الاعتماد على العمل نقصان الرجاء عند وجود الزلل

“Di antara tanda sikap mengandalkan amal ialah berkurangnya harapan (kepada Allah) ketika ada kesalahan.”

Seorang Sufi tidak pernah menggantungkan dirinya pada usaha, amalan, situasi maupun kondisi. Sehingga secara persepsi, dalam menghadapi apapun ia tidak terjebak untuk mengandalkan kemampuan dirinya.

Seorang sufi juga meyakini bahwa tidaklah jatuh daun dari dahannya kecuali semua itu atas izin-Nya.

Karena penyerahan diri, ketergantungan, harapan dan sangka baiknya kepada Allah Swt. Doktrin ihsan yang seakan melihat Allah dalam setiap aktivitasnya (musyahadah) atau pun merasa dilihat dan diawasi-Nya (muraqabah) melahirkan respon yang positif dan konstruktif.

Seorang sufi selalu melakukan dan mengusahakan yang terbaik tetapi di saat yang sama penyerahan totalitas hidup hanya kepada-Nya. Tidak diperbudak oleh pekerjaan, atasan, keadaan ataupun hawa nafsunya sendiri.

Persepsi yang demikian itu membuat setiap stres dihadapinya menjadi positif, sehat dan konstruktif. Bukan persepi yang justru tidak sehat, negatif dan destruktif.

 

Karena bagi seorang sufi, yang dialami dan dihadapinya sejatinya ialah rahmat dan kasih sayang Allah Swt kepada makhluk-Nya. Dengan demikian, tasawuf bisa meningkatkan resilience power seseorang.

Rekomendasi
Komentar
Loading...