Tiga Hal Penting Yang Terkait dengan Iman

Iman berkaitan dengan tiga lafadz penting, demikian ungkap Syekh Muhyiddiin Abdul Hamid. Ketiga lafadz itu berkaitan dengan kata dasar iman. Lafadz pertama adalah al amn (keamanan), lafadz kedua ialah al amaan (ketentraman) dan lafadz ketiga adalah al amanah (amanah).

Setiap dari tiga kata ini, maknanya sangat berhubungan erat dengan iman. Hal tersebut bisa diketahui sebab berasal dari Allah dan Rasul-Nya.

Pertama, al amn yang berarti keamanan adalah kebalikan dari khauf yang berarti ketakutan.

وَءَامَنَهُم مِّنۡ خَوۡفِۭ

dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan. (Quraisy: 4).

Sedangkan dalil yang menyatakan bahwa al amnu (aman) itu berhubungan dengan iman adalah firman Allah ta’ala.

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk. (Al-An’am: 82).

Jika keamanan menjadi rangkaian dari iman. Demikian pula dengan al amaan (ketentraman dan kedamaian) adalah ketenangan hati, yang kebalikannya ialah ragu-ragu, gelisah dan bimbang. Allah menyifati orang-orang mukmin mendapat ganjaran ketenangan qalbu yaitu al amaan.

Sedangkan al amanah (amanah) adalah kebalikan dari khianat. Dan dalil bahwa amanah berkaitan erat dengan iman ialah sabda Rasulullah Saw.

لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ

Tidak dikatakan beriman seseorang yang tidak amanah (HR. Ahmad).

Aman itu pada intinya seseorang memberikan rasa aman dari dirinya untuk dirinya sendiri. Aman dari siksa Allah Swt maupun dari rendahnya amal. Misalnya menghiraukan perbuatan yang diperintahkan Allah Swt atau mengamalkan sebuah amalan secara kurang atau dengan porsi lebih atau selain porsi yang diperintahkan oleh Allah Swt.

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Siapa yang melakukan sebuah amal yang tidak kami perintahkan maka tertolak. (HR. Muslim).

Maka siapa yang beramal tidak berdasar metode yang telah digariskan oleh Allah Swt. Baik menambahkannya maupun menguranginya atau mendatangkan sesuatu yang baru, maka orang itu dengan amalannya tertolak, tidak diterima dan tanpa ia sadari bahwa itu adalah bentuk pengamalan iman.

Selain wajib memberikan rasa aman pada diri sendiri dari siksa-siksa sebagaimana disebutkan di atas. Wajib juga bagi orang yang beriman itu memberikan rasa aman kepada pihak lain. Contohnya yaitu dengan tidak menipunya, tidak mencuranginya, tidak membid’ahkannya, dan tidak memunafikkannya. Sebab memberikan rasa aman ini merupakan sifat iman, sabda Nabi Saw,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

Tidak masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya (HR. Muslim).

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Muslim ialah orang yang kaum muslim selamat dari gangguan perkataan dan perbuatannya (HR. Bukhari).

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

Siapa yang menipu maka bukan golongan kita (HR. Muslim).

Orang yang beriman dengan sebenarnya tidak seperti orang munafik yang menipu Allah dan rasul-Nya, karena justru akan mendapat siksa yang pedih. Maka dari itu, penipun, penghinaan, kecurangan, dan semisalnya itu memiliki konsekuensi terutama yang dibincangkan di sini terkait erat dengan iman.

Dengan demikian iman berkaitan erat dengan al amn (aman), al amaan (tentram), dan al amanah (amanah).

Rekomendasi
Komentar
Loading...