TQN Center Adakan Pelatihan 5S, Kiai Wahfi: Itulah Engineering!

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), norma adalah aturan atau ketentuan yang mengikat warga kelompok dalam masyarakat. Norma dipakai sebagai panduan, tatanan dan pengendali tingkah laku yang sesuai.

Tetapi tidak cukup kita memiliki pengetahuan adanya norma. Perlu juga kita mempelajari cara bagaimana mewujudkan norma tersebut menjadi perilaku.

Atau bagaimana cara mewujudkan norma menjadi benda-benda atau seperangkat alat yang menopang terjadinya pembentukan perilaku tertentu.

“Itulah Engineering,” jelas Kiai Wahfiudin Sakam.

Terkait engineering di lingkungan TQN Pontren Suryalaya khususnya wilayah Ibu Kota. TQN Center DKI Jakarta akan menyelenggarakan Pelatihan Manajemen 5 S.

Pelatihan ini dilaksanakan dengan jumlah peserta terbatas pada Kamis, 24 September 2020 dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

5S adalah suatu metode penataan dan pemeliharaan wilayah kerja secara intensif yang berasal dari Jepang. Metode ini digunakan oleh manajemen dalam upaya mewujudkan dan memelihara ketertiban, efisiensi dan kedisiplinan di lokasi kerja sekaligus meningkatkan kinerja lembaga atau perusahaan secara menyeluruh.

Umumnya, penerapan 5S diberlakukan bersamaan dengan penerapan kaizen agar dapat mendorong efektivitas pelaksanaan 5S.

5 S itu adalah seiri (ringkas), seiton (rapi), seiso (resik), seiketsu (rawat), shitsuke (rajin).

Kiai Wahfi mengatakan bahwa Engineering itu menukik pada bagaimana, bukan sekadar apa.

“Engineering itu menyentuh langsung penerapan iptek dan pengalaman untuk mengembangkan desain-desain baru. Desain apa? Desain benda-benda baru atau desain perilaku baru,” imbuhnya.

Norma-normanya sudah kita pahami. Siapa yang tak mengenal norma: Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin? Semua orang mengerti itu.

Tetapi, bagaimana mewujudkan norma-norma itu menjadi desain/pola perilaku baru, juga desain benda-benda baru untuk membentuk perilaku baru? Itulah engineering.

Wakil Talqin Abah Anom itu mengatakan bahwa tak cukup hidup hanya pandai ilmu normatif, diperlukan juga keahlian engineering. Termasuk menghadapi kemiskinan umat Islam harus dilatih engineering.

“Semoga Pelatihan Manajemen 5S, atau 5R yang akan diselenggarakan oleh TQN Center Jakarta hari ini dapat memberikan kita keahlian dan pengalaman baru di engineering,” pungkas pembina TQN Center tersebut.

Zaenal Mulyadi selaku narasumber menuturkan bahwa pelatihan 55 ini sangat kompatibel dengan TQN Center.

“Subtansinya adalah budaya kerja dan perbaikan berkelanjutan. Malah yang sebetulnya dibidik adalah mind set,” ucap spesialis Trainer 5S tersebut.

Misalnya seiri (ringkas) artinya memiliki barang yg diperlukan atau tidak. Subtansinya isi kepala kita perlu dipilah, di mana yang positif atau yang bermanfaat saja yang kita simpan.

Demikian juga, kata Zaenal, bahwa seiton (rapih) berarti menata barang yang kita perlukan agar rapih enak dilihat dan mudah dicari. Begitu juga dengan pikiran dan qalbu kita.

“Berikutnya seiso (resik), seiketsu (rawat), shitsuke (rajin). Intinya ada standarisasi, konsistensi dan keteraturan yang terus meningkat,” tutup Founder dan CEO Khazanah Consulting tersebut.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...