Tradisi Terbangan di Pontren Suryalaya (1)

Tasikmalaya – Anda pernah mendengar Seni Terbang? Seni Terbang digunakan sebagai media dakwah Islam, melalui pujian-pujian yang dilantunkan sepanjang pertunjukan berlangsung. Seni terbang sangat khas di Pontren Suryalaya. Berikut tulisan seorang “Santri Suryalaya” yang malang melintang dalam dunia psikologi, Drs. Asep Haerul Gani.

Aki Emi, 80 tahun, pimpinan kelompok seni terbang menceritakan ia terlibat dalam kegiatan terbang sejak kanak-kanak. “Saat kanak-kanak, saya dimarahi ayah saya bahkan diusir bila saya nemegang alat, bahkan saya diminta tidur. Anehnya usai acara terbang yang berlangsung hingga dinihari itu, saya dibangunkan, dan disuruh menikmati hidangan yang ada,” ujarnya.

Setiap tahun Emi yg kanak-kanak itu hanya bisa mengamati dari jauh ayahnya bersama teman-temannya menabuh Terbang. Di tahun kelima suatu saat ada penabuh terbang yang sakit. Ia yang mampu menabuh terbang sejak itu mendapatkan kepercayaan dari pimpinan Terbang kala itu, Abah Kurdi.

Seni Terbang yang dibawa Pangersa Abah Sepuh dari Kalisapu Cirebon ke Godebag (Pondok Pesantren Suryalaya) awalnya dimainkan 13 orang. Alat yang digunakan terdiri dari 1 dogdog (tabuh kecil berdiameter 20 cm), 1 Tojo (rebana berdiameter 30 cm), 1 Kempring/Anak (rebana berdiameter 35 cm) dan 10 gembyung (rebana biang berdiameter 50-70 cm).

Dogdog dibunyikan dengan menggunakan pemukul dari kayu dengan diameter 5 cm, sedangkan Tojo, Kempring dan Gembyung ditabuh menggunakan telapak tangan. Dogdog, Tojo dan Kempring digunakan sebagai melodi, sedangkan Gembyung berguna memberi ritme.

Bunyi yang keluar dari tabuhan Terbang adalah pemberi ritme atas syair yg ditembangkan. Adapun syair yang digunakan diambil dari kitab Al Barzanzi. Syair-syair yang ditembangkan mengiringi tabuhan terbang berupa pujian kepada Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Ada pula syair yang mengungkapkan Dzikir Nafi Isbat “Laa Ilaha Illa Allah”, Sifat 20, dan Nabi ylul Azmi. (AHG)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...