Tradisi Terbangan di Pontren Suryalaya (2)

Tasikmalaya – Anda pernah mendengar Seni Terbang? Seni terbang digunakan sebagai media dakwah Islam, melalui pujian-pujian yang dilantunkan sepanjang pertunjukan berlangsung. Seni terbang sangat khas di Pontren Suryalaya. Berikut tulisan seorang “Santri Suryalaya” yang malang melintang dalam dunia psikologi, Drs. Asep Haerul Gani.

“Dahulu ada 12 cara menabuh dan 12 lagu untuk menembangkan syair” kata Kang Ii, generasi ke-3 penabuh Terbang. Setiap lagu memerlukan waktu sekitar 20-30 menit. “Saat saya kanak-kanak Terbang ini ditabuh pada 3 waktu pada bulan Mulud (Rabi’ul Awal) , dilaksanakan malam hari tanggal 1 Mulud dan Akhir Mulud bada Isya hingga dini hari sekitar pukul 02.00 pagi” kata Ki Emi “Terbang dilakukan siang hari pada tanggal 12 Mulud bada Isyraq hingga menjelang Ashar”.

Saat ini Terbang tidak dilakukan selama itu, hanya 6 lagu, mengingat penabuh yang hapal 6 lagu berikutnya telah meninggal dunia dan tak sempat tertularkan. “Alhamdulillah kami sempat merekam yang 6 hingga sekarang, tidak punah sama sekali,” kata Ki Emi, Kang Ii, Kang Ayi bersamaan dengan mata berkaca-kaca. “Kami ingin seni terbang ini lestari, sehingga kami melibatkan pemuda, remaja, dan kanak-kanak” ujar Ki Emi.

Selain mementaskan Terbang di pondok pesantren Suryalaya, rombongan Terbang yang dipimpin Ki Emi memenuhi undangan dari yang empunya hajat, seperti peresmian masjid, pesantren, syukuran pindah rumah, penempatan rumah baru, dan ritus peralihan usia. “Yang terdekat kami diundang di Warudoyong , Sindangherang, Ciamis dan Harentang Pagerageung. Selain itu kami pernah nerbang di Ciceuri, Panawangan, Ciawi, Cianjur dan Sukabumi,” ujarnya.

Kegiatan terbang berupa tabuhan dan ungkapan lagu yang disampaikan dengan paduan suara antara para penabuh ini, di daerah tertentu ditambahkan dengan Tarian. “Saya teringat saat kami diundang Alm. Ajengan Aang di Cianjur. Ajengan Aang mempersilakan seseorang seniman ibing Silat Cianjur untuk menari di tengah para penabuh Terbang. Betapa indah tarian itu, si penari mampu bergerak seiring dengan ritme tabuhan” kata Ki Emi mengenang.

“Wah, saat kami nerbang di Pesantren Az Zainiyah Nagrog, Alm Ajengan Zezen Zainudin Bazul Asyhab memerintahkan santrinya untuk joged seiring dengan tabuhan terbang” sahut Kang Ii penanggungjawab pengelolaan alat terbang.

Kegiatan Terbang malam ini (29/11) diawali pukul 20.30 hingga pukul 22.30. Kegiatan diakhiri dengan do’a oleh Ustadz Maman Suparman. Usai kegiatan, semua penabuh alat mengendurkan tegangan alat, membereskannya, kemudian membawa bungkusan makanan nasi kebuli yang disiapkan pihak pontren dan membawanya ke rumah. “Kami bawa ke rumah agar seisi rumah memperoleh keberkahan” kata penabuh dogdog.

Saya pun ikut mendapatkan keberkahan berupa sebungkus kebuli dan catatan etnografi untuk membantu kang Dudi Jamaludin yg sedang meneliti Terbang sebagai bahan Tesis S2 nya. (AHG)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...