Tuhan yang Tertukar

Judul di atas mungkin agak sedikit “kontroversial”. Namun, penulis mengajak kita untuk berpikir dan mengevaluasi konsep ketuhanan dipahami saat ini.

Tuhan? Kalau mengacu pada pandangan teisme, Tuhan mempunyai definisi pencipta sekaligus pengatur segala kejadian di alam semesta (Wikipedia). Definisi ini bersifat universal dan berlaku untuk semua agama. Bedanya hanya dalam penyebutannya.

Dalam agama Islam, Tuhan disebut dengan Allah, Nasrani menyebutnya Allah (Bapa), Yesus, Roh Kudus. Yahudi menyebutnya Yehuwa. Hindu menyebutnya Syiwa, Wisnu dan Brahma. Budha menyebutnya Atthi Ajatam Abhutam Akatam Asamkhatam (suatu yang tidak dilahirkan, tidak dijelmakan, tidak diciptakan dan yang mutlak). Serta berbagai penyebutan lainnya.

Penyebutan di atas mempunyai makna yang sama namun berbeda dalam penamaannya. Artinya, semua agama di dunia ini mengakui keberadaan Tuhan sebagai Dzat pengatur segalanya. Kemudian yang menjadi pertanyaan kritisnya adalah, “Apakah keberadaan Tuhan mempunyai efek dalam kehidupan para pemujaNya? Apakah keyakinan terhadap keberadaan Tuhan selaras dengan perilaku dan perbuatan para pemeluknya? Ini yang akan kita bahas dalam artikel singkat ini.

Seringkali kita dihadapkan pada sebuah ironi ketika seseorang bertanya kepada pelaku maksiat. “Apakah kamu bertuhan (memiliki) Tuhan?” Bisa dipastikan ia akan menjawab “Ya, saya memiliki Tuhan”.

“Kalau kamu ber-Tuhan, mengapa masih melakukan maksiat?” Dengan berbagai alasan ia menjawab pertanyaan. Intinya, apa yang dilakukannya memiliki alasan kuat, dan ia ingin kita memakluminya.

Itulah yang sering terjadi. “Ber-Tuhan namun tidak berketuhanan.” Artinya ia “mengaku” memiliki Tuhan, namun perbuatan dan perilakunya tidak mencerminkan jika ia “memiliki” Tuhan.

Dalam QS Al Jatsiyah ayat 23 Allah telah berfirman:

أَفَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِۦ وَقَلْبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِنۢ بَعْدِ ٱللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

Artinya: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”

Dapat diambil sebuah pemahaman bahwasanya di antara kita masih ada yang keliru dalam ber-Tuhan. Ada yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Meskipun mengaku ber-Tuhan, dalam praktek kehidupannya sangat jauh dari nilai-nilai kehidupan yang sudah diatur oleh Allah SWT.

Sebenarnya tidak ada seorangpun yang tidak memiliki Tuhan. Termasuk Atheis sekalipun. Bisa jadi secara formal ia menolak konsep ketuhanan, namun secara hakikat ia tetap bertuhan meskipun kepada hawa nafsunya. Karena pengaruh hawa nafsunya itu pula kemudian ia salah dalam memilih Tuhannya.

Ia berani “menukar” Tuhan yang seharusnya disembah, yaitu Allah SWT dengan Tuhan yang ia inginkan sendiri.

Fenomena “tertukarnya Tuhan” ini bukan hanya menghinggapi para kaum Atheis namun juga kaum yang beragama. Bisa jadi termasuk kita, yang lebih suka menurutkan keinginan hawa nafsu dibandingkan keinginan Dia. Na’udzubillah

Semoga Allah SWT selalu membimbing kita dalam menempuh kehidupan yang diridhai-Nya. Aamin ya rabbal ‘alamin.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...