Ulah Melengkung Bekas Nyalahan

Ny. Hj. Djoehriah Besman (Ibu Yoeyoe). Nama kecilnya Siti Rohmat, dilahirkan pada tanggal 20 Mei 1924. Dari ayah, Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad dan Ibu, Hj. Siti Djoehriah (Nyimas Alkiyah).

Siti Rohmat mendapat pendidikan dan pengajaran dari ayahandanya seorang Mursyid TQN Pontren Suryalaya yang akrab disapa Abah Sepuh.

Hal berkesan yang ditanamkan ayahandanya sejak kecil, yaitu “Kudu Asih ka Jelema nu Mikangewa ka Maneh”.

Suatu hari Abah Sepuh kedatangan bapak H. Godjali dari Manganti dengan muka sedih. Hal itu dikarenakan di kampungnya ada seorang Ajengan yang berpidato menjelek-jelekkan Abah Sepuh.

Mendengar laporan tersebut Pangersa Abah Sepuh hanya tersenyum dan berkata: “Biarkan saja, kenapa ribut? Nanti juga berhenti dan malu sendiri”.

Selang beberapa waktu, Abah Sepuh menyuruh bapak Kurdi untuk menyiapkan beras, domba dan ikan yang besar. Setelah siap semua, lalu bapak Kurdi diminta untuk mengantarkannya ke Sindang seraya menyampaikan salam dari Abah untuk beliau katanya.

Pak Kurdi hanya bengong dan Siti Rohmat kecil bertanya-tanya: “Kenapa harus begitu Abah?”

“Sudah seharusnya (bersikap sayang) kepada orang seperti dia. Agar menjadi sadar akan kekhilafannya. Kalau ada yang benci, jangan dilayani benci lagi. Kasihan dia masih terkurung rasa benci walaupun pandai mengaji,” jawab Abah Sepuh.

Ulah Melengkung Bekas Nyalahan

Satu lagi yang tidak lupa dalam ingatan Siti Rohmat ialah perlakuan Abah Sepuh terhadap salah seorang kakak lelakinya, Jakamunji atau Mumun (nama kecil Abah Anom) yang berbeda dibandingkan (perlakuan Abah Sepuh) terhadap saudaranya yang lain.

Kalau saudaranya yang lain saat berlibur pulang ke rumah itu bisa tinggal lama. Justru Mumun baru sebentar saja di rumah sudah disuruh kembali ke pesantren.

Abah Sepuh hanya mengatakan: “Biarlah Mumun belajar prihatin waktu mencari ilmu. Abah juga prihatin waktu mencari ilmu. Tapi sekarang alhamdulillah bisa mengajar orang. Mudah-mudahan Mumun bisa menjadi penerus Abah”.

Abah Sepuh.

Dalam sejarah, Abah Sepuh sebenarnya dari keluarga kaya raya. Tetapi perlakuan ayahnya dalam mendidiknya sangat disiplin sekali. Waktu akan mencari ilmu, Abah Sepuh hanya dibekali sebesar sabenggol atau 2,5 sen.

Sampai Siti kecil pun bertanya, “Mengapa demikian?”

Abah Sepuh menjawab sambil tersenyum: “Abah berpikir bahwa orang tua sengaja membiarkan hidup Abah sengsara mencari ilmu. Dari sejak kecil telah melihat perbedaan itu. Keinginan belajar dan mencari ilmu Allah itu datang dari kehendak sendiri tanpa suruhan dan paksaan orang lain.

Pernah Abah tidak membawa bekal apapun dalam perjalanan mencari ilmu. Sehingga di tengah perjalanan, perut keroncongan minta diisi. Dan kebetulan di sana ada pohon caruy yang bijinya bisa dimakan oleh Abah untuk sekadar mengganjal perut.

Begitulah kenapa Abah terhadap kakakmu Mumun sangat keras. Sengaja kulakukan untuk mendidik dia. Semoga diridhai Allah Swt untuk mengikuti jejak Abah, biarkan dia hidup perih dahulu dalam mencari ilmu. Karena tidak mudah menurunkan perguruan serta ajarannya itu, apalagi kepada anak sendiri.

Abah takut dia itu Melengkung Bekas Nyalahan (keluar dari jalur ajaran yang menjadikan kesalahan)”.

Sumber: Majalah Sinthoris Edisi Januari 2019 M / Jumadil Ula 1440 H

Rekomendasi
Komentar
Loading...