Ulama dan Cendekiawan di Manado Bahas Tiga Tantangan Dakwah Islamiyah

Jakarta –  Ulama dan cendekiawan di Manado pagi ini, Rabu (31/01), berkumpul di Hotel Aston membahas tantangan dakwah Islamiyah. Acara yang digagas oleh Pengurus Cabang NU dan TQN Sulawesi Utara ini juga dihadiri oleh beberapa utusan ormas Islam .

Acara yang dihelat di ruang  Asoka lantai 2, dimulai pukul 08:00 wita, dipandu oleh Ustadz Yaser bin Salim Bachmid, Rais PCNU Manado.

Dalam penyampaiannya, Mudir Aam JATMAN, Kyai Wahfiudin memetakan sedikitnya ada tiga hal mendasar yang menjadi tantangan dakwah Islamiyah. Yang pertama adalah sikap ghaflah, acuh, tidak peduli. Menurut muballigh yang akrab dengan multimedia ini, sikap ghaflah ada di dalam al-qur’an surat al-A’raf ayat 179. “…mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah)…”

Sementara itu dalam surat yang sama ayat 205, Allah menyampaikan “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”

Ia pun menyimpulkan, penyebab ghaflah dalam ayat 179 adalah malas berfikir dan dalam ayat 205 malas berdzikir. Peran muballigh bukan hanya mengajak orang untuk mendekat kepada Allah melalui rangkaian ibadah seperti shalat, dzikir dan puasa. Namun juga mendorong umat untuk memaksimalkan perannya membuat sebuah perubahan di masyarakat dengan tidak menjadi ghaflah.

“Dakwah tidak cukup hanya membuat orang senang dengan membuat tertawa, bersorak-sorak, bahkan marah dengan membuat statement statement orasi politik yang membakar. Selama ke-ghaflahan tidak disingkirkan, maka selama itu umat hanya menjadi buih yang dapat disingkirkan”, sambungnya.

Tantangan kedua adalah perkembangan teknologi digital. Kemajuan teknologi yang pesat harus mampu dimanfaatkan untuk perkembangan dakwah. Muballigh pun harus mampu membantu terciptanya masyarakat pembelajar. “Medsos tidak negatif, menjadi negatif ketika yang hadir di situ hanya yang negatif. Kenapa? karena yang positif tidak dihadirkan, karena ustadznya tidak mampu menggunakan teknologi,” katanya.

Menurut pengurus Lembaga Dakwah PBNU ini, dalam penggunaan medsos seorang muballigh harus siap mental dan intelektual agar tidak terjebak dalam konflik-konflik yang tidak produktif. “Ustadz harus mampu memberikan pandangan-pandangan yang menyejukkan dalam penggunaan medsos bukan malah saling serang.”

Tantangan ketiga adalah perubahan geopolitik. Pergeseran kekuatan ekonomi dan politik dunia sangat mempengaruhi arah perkembangan negeri ini. “Setidaknya muballigh harus mencermati dampak dari pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan penduduk dan stabilitas hukum. Muballigh tidak boleh lengah dengan perkembangan geopolitik,” tutupnya. (Idn)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...