Urgensi Pengembangan Wisata Syariah di Jakarta

Peran Jakarta Islamic Centre

Sebenarnya yang paling berkepentingan untuk pengembangan wisata syariah selain insansi terkait, Dinas Pariwisata, adalah Jakarta Islamic Centre (JIC). JIC diresmikan Maret 2003, dengan bangunan arsitektur masjid yang indah dan megah, telah menjadi kebanggaan umat Islam Jakarta. Dengan dibentuknya organisasi dan tata kerja badan Pusat Pengkajian dan pengembangan Islam Jakarta, JIC ditetapkan sebagai pusat peradaban Islam, pendidikan dan ekonomi/bisnis.

DKI Jakarta, sebagai ibukota negara RI, pusat pemerintahan dan ekonomi/bisnis, menjadi barometer kemajuan nasional. Karenanya masyarakat DKI dan warga betawi yang memiliki basic kultural islami, berharap banyak terhadap keberadaan JIC, untuk mampu mendorong kemajuan peradaban Islam, pendidikan dan ekonomi kreatif di DKI Jakarta, seperti melalui pengembangan wisata syariah.

Ketika orang menyebut JIC, selain disana berdiri masjid megah, orang akan teringat dengan kawasan tersebut sebelumnya sebagai kawasan hitam, tempat prostitusi yang kemudian berhasil “diputihkan”, dimasa gubernur Sutiyoso. Semangat ini hendaknya terus menginspirasi dan memotivasi pengelola JIC untuk kembali “memutihkan” Jakarta sebagai kota syariah, melalui pengembangan pariwisata islami (halal).

Untuk memajukan industri pariwisata syariah Jakarta, semua pihak harus bersinergi dan terlibat atau dilibatkan dalam mendukung sektor ini, baik pemerintah pusat/kementerian Pariwisata, pemda, MUI, ulama/ustadz, pihak swasta dan masyarakat. JIC, perlu terus mengkoordinasikan unsur-unsur wisata syariah ini secara terpadu untuk keberhasilan wisata syariah di Jakarta. Keberhasilan pariwisata di Bali misalnya, karena mereka berhasil mensinergikan nilai-nilai agama/adat hindu dengan pariwisata. Hal yang sama juga perlu dilakukan JIC dan masyarakat Jakarta atau Betawi yang memiliki basic kultural islami, dengan mensinergikan wisata syariah dengan ajaran Islam. Memajukan wisata syariah identik dengan memajukan peradaban Islam atau mengaktualisasikan ajaran dan akhlak Islam dalam kehidupan bermasyarakat/sosial. Nilai-nilai tersebut seperti kejujuran, ramah tamah, komitmen, pelayanan/pengabdian terbaik, kebersihan, keihlasan dll. Ini semua adalah nilai nilai dasar pendukung dalam pengembangan wisata syariah.

Kita perlu terus mendorong pihak terkait untuk mempromosikan secara terpadu berbagai obyek wisata rohani atau ziarah, seperti kuburan para waliullah, di Kramat luar batang, Sunda kelapa, Jatinegara Kaum, Duren Sawit dan Obyek wisata masjid-masjid tua dan modern-sarana akomodasi (hotel/losmen) dan restoran halal. Melalui brosur, media elektronik baik di alam dan luar negeri. Kita perlu ikut mencermati dan mengamati agar sektor wisata syariah terbebas dari unsur seks di luar nikah dan alkohol atau makanan dan minuman haram. JIC dan Dinas pariwisata juga perlu mendorong Pemda agar aneka budaya dan tradisi lokal/betawi yang berbau islami perlu di benahi dan di kemas sedemikian rupa, sehingga bisa menjadi atraksi/event tetap wisata syariah Jakarta yang menarik.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...