Ust. Asep Saepul Bahri: Tugas Kita adalah Mengenal Allah SWT

Jakarta – Kamis (24/11) khidmah ilmiah dzikir khatam di TQN Center, Masjid al-Mubarak disampaikan oleh Ust. Asep Saepul Bahri. Dalam kesempatan itu ia mengupas kitab Miftahus Shudur, susunan Guru Mursyid, Syaikh Ahmad Shahibul Wafa Tajul Arifin qs. Berikut ringkasannya;

Dalam kitab miftahus shudur, Pangersa Abah menyeru para ikhwan untuk bersegera menuju kepada ampunan Allah SWT bersama khafilah-khafilah ruhani. Mengapa? karena kita mempunyai waktu terbatas. Usia kita mungkin tidak lama, belum mendapatkan talqin dzikir dan tidak ada yang mengantar ruh kita ke alam sana.

Kita hadir di dunia yang hina dan pasti binasa. Hadir di dunia bukan untuk berpangku tangan, bukan untuk sekedar makan, bukan untuk sekedar minum dan juga bukan untuk memuaskan hawa nafsu. Nabi kita sedang menanti dan bersedih menunggu kita.

Pada jaman ini masih ada ulama-ulama pewaris para nabi. Mereka mengajarkan kita yang hak sebagaimana Rasulullah mengajarkan para sahabat.

Dalam quran surat Az-Zariat ayat 56, Allah berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” Maksud dari kata mengabdi adalah mengenal Allah SWT. Bagaimana kita bisa mengabdi jika kita tidak mengenal Allah?

Jadi harus kita kenal siapa yang di-ibadahi. Mengenal Allah hanya bisa didapat dengan menghilangkan hijab-hijab yang ada di dalam qalbu. Setiap manusia, apapun agamanya pasti sadar bahwa dirinya mempunyai penyakit qalbu; iri, dengki, sombong, jahil, takabur dan lainnya. Kita sadar tapi kita tidak memunyai alat untuk membersihkannya. Mursyid-lah yang tahu bagaimana membersihkan penyakit qalbu itu.

Dalam tarekat, cara untuk mendekatkan diri kepada-Nya, menghilangkan hijab-hijab yang ada di dalam qalbu adalah dengan dzikrullah. Dan dzikir ini adalah dzikir yang tersambung sampai ke Rasulullah.

Jika qalbu kita hitam tandanya kita jauh dari Allah SWT. Jika qalbu kita bersih tandanya kita dekat dengan Allah SWT. Saat sudah bersih qalbu kita, saat itulah kita bisa melihat perbendaharaan yang tersembunyai yang ada di dalam qalbu kita.

Dalam hadist qudsi Allah SWT berfirman, “Aku adalah harta yang terpendam, Aku ingin dikenal maka Aku ciptakan makhluk untuk mengenal-Ku.” Jadi makhluk dicipta Allah SWT untuk mengetahui bahwa Allah SWT itu ada. Mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya adalah hasil dari makrifat. Sehingga tugas kita yang sesungguhnya adalah mengenal Allah SWT.

Mengenal Allah SWT melalui mursyid. Tugas mursyid bukan hanya membersihkan qalbu, namun juga menghantarkan ruh kita kehadirat Allah SWT. Tidak ada dzikir kita yang sampai kepada Allah SWT kecuali karena guru kita. Dan guru kita pun akan mengatakan itu hasil dari gurunya, begitu seterusnya sampai ke Syaikh Abdul Qadir Jailani qs dan Rasulullah SAW. Maka pada hakikatnya, Rasul-lah yang sesungguhnya menyampaikan amal kita sampai kepada Allah SWT. (Idn)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...