Wakaf; Pilihan Cerdas Yang Menjanjikan

Sebagai negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia, Indonesia patut bangga karena menurut World Giving Index pada Oktober 2018, Indonesia merupakan negara dengan penduduk paling dermawan di dunia.

Jumlah yang banyak dengan karakter yang positif tersebut adalah hal yang baik. Tetapi akan lebih baik lagi jika potensi tersebut diarahkan pada salah satu instrumen dalam ekonomi Islam yang bernama wakaf.

Apa sebab? pasalnya wakaf memiliki manfaat yang lebih sustainable karena mempunyai ciri kekekalan harta pokok. Berbeda dengan zakat yang bisa habis setelah didistribusikan. Dan wakaf adalah 100% harta. Berbeda dengan zakat yang hanya pada kisaran 2.5% – 10% dari harta.

Bukan hanya itu manfaat wakaf juga bisa dinikmati oleh masyarakat luas sesuai dengan ikrar wakaf. Karena secara aturan fiqih, wakaf juga lebih fleksibel karena tergolong ijtihadi. Sehingga model wakaf bisa terus dikembangkan lebih maksimal sesuai perkembangan zaman.

Dengan kalimat lain wakaf memiliki jangkauan yang lebih luas ketimbang zakat yang hanya diperuntukkan untuk 8 golongan (ashnaf). Oleh sebab itu wakaf bisa jadi penopang kekuatan ekonomi umat yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Namun di lapangan, amat disayangkan karena literasi wakaf di kalangan muslim Indonesia masih rendah. Sebagaimana disebutkan dalam Indeks Literasi Wakaf tahun 2020 yang dilakukan oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI), Pusat Kajian Startegis BAZNAS & Direktorat Zakat dan Wakaf Kementerian Agama Republik Indonesia.

Padahal di sisi lain, wakaf menjadi amal ibadah yang ganjaran kebaikan dan pahalanya akan mengalir terus menerus meski wakif (yang mewakafkan) sudah wafat.

“Ketika manusia meninggal, terputus lah darinya amalnya kecuali tiga hal. Yakni kecuali sedekah jariah (wakaf), atau ilmu yang dimanfaatkan (bermanfaat), atau anak saleh yang mendoakan baginya”. (HR. Muslim).

Rekomendasi
Komentar
Loading...