Yang Penting Hanya Satu, Yang Lain Tidak

Suatu hari, Parmin (P) dan Sabri (S) duduk berdampingan dalam sebuah bus. Keduanya hendak pergi ke Jakarta. Melihat Parmin yang berpakaian rapi ala pegawai kantoran, Suroto menjadi penasaran.

S: Mau ke Jakarta pak?

P: Iya.

S: Jakartanya di mana?

P: Lenteng Agung. Kalau sampean mas?

S: Saya di Pasar Minggu.

Sabri masih penasaran.

S: Kerja di mana?

P: Di UI. Universitas Indonesia.

S: Oh. Dosen ya?

P: Ah, bukan. Saya di bagian tata ruang.

Sabri yang juga seorang mahasiswa di sebuah kampus di Jakarta Selatan semakin penasaran.

S: Oh. Bapak desainernya ya. Pantesan UI kampusnya indah banget.

P: Iya. Alhamdulillah. Tapi kalau saya tugasnya di lapangan, bukan di kantornya. Tugas saya sehari-hari menjaga kebersihan dan kerapihan taman di sekitar rektorat. Di situ kan banyak pohon. Jadi banyak daun berserakan. Ya tiap hari saya sapu.

Mendengar jawaban itu, air muka Sabri berubah. Nampaknya agak kecewa.

S: Oh. Jadi bapak cleaning service ya?

P: Betul mas.

Sabri pun diam. Tak lagi melanjutkan interogasinya, dan pura-pura baca buku.

Hikmah

Demikianlah. Banyak di antara kita yang memandang rendah suatu pekerjaan, sehingga dengan mudah meremehkan orang lain hanya dari pekerjaan yang dimilikinya. Padahal setiap orang memainkan perannya masing-masing sesuai kemampuan dan keahliannya.

Misalkan, seorang penyapu jalanan mungkin tidak akan mampu mengerjakan pekerjaan dosen atau direktur sebuah perusahaan. Sebaliknya seorang direktur atau dosen pun tidak akan mau mengerjakan pekerjaan penyapu jalanan.

Tanpa dosen, kegiatan belajar di kampus tak akan berjalan. Tanpa direktur, sebuah perusahaan akan bangkrut. Tanpa para penyapu jalan, jalanan akan kotor dengan sampah dan dedaunan. Allah swt menciptakan manusia dengan kemampuan dan perannya masing-masing. Dengan peran-peran itulah kehidupan di alam ini berjalan harmonis.

Dikatakan sebuah mobil, ibaratnya, karena ada roda, spion, kaca depan, jok, dan lain-lain. Adakah sebuah mobil yang hanya tersusun dari spion atau roda semua? Tentu tidak ada. Semua berada dan berfungsi pada perannya masing-masing.

Allah Maha Adil. Maka Dia tidak memandang kualitas seorang manusia dari keadaan fisik atau pekerjaannya. Allah mengukur kualitas kemuliaan seseorang dari kondisi qalbu/hati dan kinerjanya. Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasad dan bentuk kalian, tetapi Ia melihat pada qalbudan perbuatan kalian.” (HR.Muslim)

Allah swt berfirman: “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kalian. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Hujurat: 13)

Jika Allah memuliakan seorang manusia hanya dari kualitas ketakwaan kepada-Nya, bukan dari kualitas lainnya apalagi yang lahiriah. Sedangkan takwa letaknya dalam qalbu dan terpancar dalam perilaku. Mengapa kita, yang hanya mahluk seperti halnya mahluk-mahluk Allah lainnya, justru memuliakan sesama manusia dari kualitas lahiriahnya seperti pekerjaan, jabatan, kecantikan/ketampanan, kekayaan?

Saat kita merendahkan orang lain, saat itulah kita rendah di mata Allah. Semakin sering merendahkan orang, semakin rendah derajat kita di sisi Allah.

“Mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya kekufuran.” (HR Bukhari Muslim)

Semua manusia diciptakan dengan satu peran, yaitu hamba. Apapun pekerjaannya, bagaimanapun rupa fisik dan harta-bendanya. Itu semua hanya sarana untuk menjalankan tugas penghambaan kepada-Nya.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...