Kiai Wahfiudin: Amar Ma’ruf Nahyi Munkar Sesuai Amaliah TQN

Ada dua kebajikan yang tidak terpisahkan satu sama lain. Pertama kebajikan dalam hubungan vertikal dengan Allah. Kedua kebajikan dalam hubungan horizontal manusia dengan sesama makhluk-Nya.

“Dalam hubungan vertikal, manusia dengan Allah, apa kebajikan tertinggi yang paling Allah sukai? Taqwa. Maka semua ibadah didesain agar seseorang menjadi bertaqwa,” tulis KH. Wahfiudin Sakam.

Lalu, dalam hubungan horizontal, manusia dengan sesama makhluk, apa kebajikan tertinggi yang disukai Allah dan kebanyakan manusia? Adil.

“Dan keadilan tidak bisa dipisahkan dari ketaqwaan,” sambung Wakil Talqin Abah Anom tersebut.

Adil adalah akhlak yang sangat dekat dengan ketaqwaan. Perintah berlaku adil adalah bagian dari taqwa itu sendiri. Maka siapa yang bertaqwa pasti berlaku adil. Allah Swt berfirman:

ٱعۡدِلُواْ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ

“Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (Al-Ma’idah: 8). Baca juga…

Maka, kata Kiai Wahfi, upaya menegakkan keadilan sosial, dan meruntuhkan kezaliman sosial, akan mendekatkan seseorang pada ketaqwaan.

Karena itu, Al Qur’an menyebut umat Nabi Muhammad Saw sebagai umat terbaik. Mantan Mudir Aam JATMAN itu membeberkan mengapa kamu adalah umat terbaik.

“Karena kepadamu ditugaskan Amar Ma’ruf Nahiy Munkar,” ujarnya.

Sebab-sebab yang menjadikan umat Islam umat terbaik secara gamblang dijelaskan oleh Al Qur’an.

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. (Ali Imran: 110).

Terkait hal tersebut Rasulullah juga bersabda:

قَامَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ ؟ فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” خَيْرُ النَّاسِ أَقْرَؤُهُمْ، وَأَتْقَاهُمْ، وَآمَرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ، وَأَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَأَوْصَلُهُمْ لِلرَّحِمِ

Seseorang bertanya pada saat beliau Saw di atas mimbar. “Wahai Rasulullah, manusia seperti apa yang terbaik?”. Nabi menjawab: “sebaik-baik manusia ialah yang paling bagus bacaannya, paling bertaqwa, paling melakukan amar ma’ruf, dan paling melaksanakan nahyi Munkar, serta paling menyambung silaturahim. (HR. Ahmad).

Maka kebaikan umat Islam tergantung pada penegakkan dua hal pokok ini yakni, amar ma’ruf dan nahyi munkar. Karena kedua hal itu adalah pagarnya agama (siyajuddin). Dan tidak mungkin membangun umat di atas kebaikan dan keutamaan kecuali menegakkan keduanya. Karena meninggalkan kedua hal tersebut pula lah yang menjadikan Bani Israil berhak mendapat laknat. Demikian tulis Syekh Sayyid Muhammad Thanthawi dalam Tafsir Al Washit. Baca juga…

Kendati demikian, Kiai Wahfiudin mengingatkan bahwa amar ma’ruf nahyi munkar tidak bisa dilaksanakan secara serampangan. Tapi disesuaikan dengan kapasitas dan kemampuan.

“Amar ma’ruf nahyi munkar itu disesuaikan dengan cara-cara yang sufistik sesuai dengan hasil amaliah TQN,” imbuh Wakil Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat tersebut.

Kiai Wahfi pun menambahkan, seorang Perdana Menteri Eropa pernah menulis, “di seluruh negeri-negeri Muslim yang dijajah bangsa-bangsa Eropa, mulai dari Maroko hingga Merauke, selalu saja terjadi ketidakstabilan selama masih ada ulama-ulama sufi, karena mereka selalu membangkitkan dan memimpin perlawanan kepada para penjajah.”

Mengapa para sufi selalu melawan penjajah? Karena penjajahan, yang bermula dari perekonomian yang curang disertai suap kepada para pejabat, adalah tindakan yang merusak keadilan sosial, dan memunculkan ketertindasan, kemiskinan serta kebodohan pada rakyat muslim. Lawan dari keadilan adalah kezaliman.

Maka amar ma’ruf nahyi munkar mesti diserahkan kepada ahlinya. Renungkan kembali kita ahli apa, apa yang mau dan mampu untuk kita diperbuat.

“Serahkan segala sesuatu pada ahlinya. Jangan pula kita melakukan sesuatu yang kita tidak punya ilmunya tentang sesuatu itu. Karena, apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya,” sambung Kiai asal Betawi tersebut.

Sesungguhnya, setiap orang (ruh al-quds) diutus ke muka bumi dengan membawa misi (tugas) tertentu. Kalau ia tak melaksanakan misinya itu, tak akan ada orang lain yang akan menuntaskan misi itu, karena setiap orang punya misi tersendiri. Maka bekerjalah!

كل ميسر لما خلق له

Setiap orang akan dimudahkan menuju untuk apa ia dicipta. (HR. Muslim).

“Mengapa manusia harus bekerja. Karena Tuhan kita, Allah, adalah Tuhan yang selalu bekerja,” pungkasnya.

#amarmaruf #nahyimunkar #amaliahtqn

Rekomendasi
Komentar
Loading...