Kisah Abah Sepuh Berguru ke Syekh Tolhah

Sebagai Khalilfah TQN di wilayah Cirebon, banyak santri, kiai dan pejabat yang berguru kepada Syekh Tolhah. Dari sekian murid diantaranya ada kiai muda, Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad dari Pesantren Tundagan Tasikmalaya.

Pesantren Tundagan adalah pesantren pertama Kiai Mubarok. Letaknya sekitar 3 km ke arah barat dari pusat Kota Tasikmalaya.

Kiai Mubarok pergi belajar ke Syekh Tolhah bersama sahabatnya Madraji yang berasal dari Garut. Pada masa itu, guru-guru tarekat di wilayah Priangan Timur sangat langka. Kalaupun ada, sulit diketahui keberadaannya.

Hal ini disebabkan pengawasan aparat kolonial Belanda terhadap kegiatan yang berbau tarekat di setiap pesantren. Maka, bagi mereka yang ingin mempelajari tarekat harus pergi ke luar Priangan.

Sebelum pergi ke Cirebon, Kiai Mubarok bersama-sama dengan teman dekatnya sering berziarah ke Pamijahan (50 km ke arah selatan dari kota Tasikmalaya). Di tempat itu dimakamkan Syekh Abdul Muhyi, seorang sufi dan guru tarekat yang amat terkenal pada akhir abad ke-18.

Pada suatu malam ketika sedang berada di Pamijahan untuk kesekian-kalinya, Kiai Mubarok mendapat petunjuk dalam mimpinya bahwa di Cirebon ada seorang ulama yang akan menjadi guru mursyidnya. Bahkan dalam mimpinya itu tampil seraut wajah dari seorang yang tidak dikenal sebelumnya. Ia seorang laki-laki yang tampan dan masih muda.

Selang beberapa waktu setelah mendapat petunjuk gaib di Pamijahan, Kiai Mubarok ditemani sahabatnya Kiai Madraji berangkat ke Cirebon dan mencari guru mursyid yang dimaksud dalam petunjuk gaib.

Guru mursyid yang dicari tidak mudah. Wilayah Cirebon cukup luas dan alamatnya belum diketahui. Akhirnya setelah berhari-hari mencari ke seluruh pesantren di Cirebon bertemulah dengan Syekh Tolhah yang tinggal tersembunyi di semak-semak payau, di tepi laut dekat muara Sungai Kali Sapu, yaitu di Begong.

Untuk beberapa waktu lamanya Kiai Mubarok bersama sahabatnya mondok di Pesantren Begong. Mereka tetap mengikuti Syekh Tolhah meskipun pondok pindah tempat ke dekat Balai Desa Kali Sapu, dan selanjutnya ke Trusmi.

Kiai Mubarok dan Kiai Madraji pergi-pulang ke Cirebon setiap dua sampai tiga bulan sekali dari Tasikmalaya selama hampir 23 tahun. Perjalanan sejauh 100 km ditempuh sebagian dengan jalan kaki, sebagian menggunakan kendaraan seadanya baik bermotor maupun yang ditarik kuda. Aktivitas itu terjadi sekitar tahun 1883 hingga 1905.

Abah Sepuh bersama para ikhwan.

Perjalanan yang tidak mudah karena kondisi jalan saat belumlah bagus seperti sekarang ini. Kampung-kampung masih sangat sedikit, kiri-kanan adalah hutan-hutan yang masih lebat, masih cukup banyak binatang buas yang berkeliaran di jalan-jalan.

Sekitar tahun 1900, Kiai Mubarok menerima pelimpahan kemursyidan dari Syekh Tolhah.

Artikel Terkait: Orang Yang di Benci Allah Menurut Syekh Abdul Qadir Jaelani

Untuk mengembangkan ajaran TQN, pada tahun 1905 Kiai Mubarok mendirikan Pesantren Godebag yang kemudian namanya (atas saran Syekh Tolhah) diubah menjadi Pesantren Suryalaya.

Kiai Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad dikenal juga sebagai Abah Sepuh.

(Diambil dari buku Menelusuri Perjalanan Sejarah Pondok Pesantren Suryalaya, yang disusun oleh R.H. Unang Sunardjo SH).

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...