Pangersa Abah Hadir Saat Kita Rabithah

Cerita ini disampaikan oleh Ustadz Amin Iskandar, ikhwan TQN Suryalaya asal Tasikmalaya, yang pernah merantau di Lampung dan kini tinggal di Kereng Pangi, Kotawarngin Timur, Kalteng.


Tahun 1997 saat saya sedang mengajar ngaji di Pondok Pesantren Miftahul Huda Lampung tiba-tiba diberi cobaan sakit mendadak. Kondisi tubuh yang semakin payah membuat saya tidak mampu meneruskan pelajaran. Maka saya berikan tugas kepada santri untuk menghafal lalu saya izin pamit pulang ke rumah.

Saat itu waktu menunjukkan pukul 20:00 wib. Saya kembali ke rumah dipapah istri dan beberapa santri. Tiba di kamar, badan semakin terasa sangat sakit dan menggigil.

Satu jam kemudian kamar bergoyang, dan anehnya tiba-tiba ada burung gagak hitam sudah ada di dalam kamar, entah masuk dari mana. Padahal pintu dan jendela tertutup rapat.

Istri dan anak-anak ketakutan. Saya ingatkan mereka untuk tenang, perkuat dengan dzikir khafiy. Di saat bersamaan perut dan kepala saya begitu sakit seperti ditusuk-tusuk dengan paku.

Tidak lama setelah rabithah, Pangersa Abah Anom hadir dan berada di samping saya. Sambil tersenyum beliau berkata, “Sabar Min, teruskan dzikir khafiy, anggap saja ini duri,” pesan Pangersa Abah lalu pergi sambil mengucapkan salam.

Setelah menjawab salam Pangersa Abah, saya bangkit dari posisi rebah ke posisi duduk tawajjuh. Burung gagak menjerit ketakutan lalu pergi berkat karamah Pangersa Abah Anom.

Alhamdulillah seketika itu juga sakit saya langsung sembuh. Saya menoleh kepada istri dan bertanya mengapa menangis. Ternyata istri saya pun menyaksikan kehadiran dan mendengar nasihat Pangersa Abah.

Terima kasih Abah, Al-Fatihah.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...