Tanamkan Cinta Nabi pada Anak

Bulan Rabi’ul Awwal telah datang, bulan kelahiran Sayyidil Awwalin wal Akhirin Nabi Muhammad Saw. Alam raya ini tidak mungkin ada jika tanpa kehadiran beliau.

Terlalu besar jasa, kebaikan dan pengaruh beliau untuk manusia, sehingga manusia diwajibkan untuk bershalawat kepadanya. Kendati pun manfaat shalawat itu akan kembali kepada yang bershalawat.

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

Diriwayatkan Bau Hurairah bahwa nabi bersabda, siapa yang bershalawat satu kali kepadaku, maka Allah akan melimpahinya rahmat sepuluh kali (HR. Muslim).

Banyak ulama yang menyusun syair yang mengandung kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw. Mulai dari Imam Sayyid Ja’far bin Hasan Al Barzanji yang menulis Maulid Barzanji, kemudian Imam Abdurrahman Asy Syaibani dengan Maulid Diba’ nya. Ada lagi Habib Ali Al Habsyi mlyang merangkainya dalam Maulid Simthud Durar. Lalu Maulid Dhiya’ul Lami’ yang ditulis oleh ulama asal Yaman Habib Umar bin Hafidz.

Abdullah ibn Hisyam meriwayatkan, “pada suatu hari kami tengah bersama Rasulullah Saw. Kala itu, beliau meraih tangan Umar ibn al Khattab. Terdengar Umar menyatakan, ‘Wahai Rasul, engkau benar-benar yang paling aku cintai dibanding segala sesuatu kecuali diriku sendiri.’

Nabi saw. kemudian berkata, “Tidak, demi Dzat yang menggenggam jiwaku, sampai aku menjadi orang yang paling dicintaimu dibanding dirimu sendiri. ‘Umar pun menjawab, “Demi Allah, jika demikian, sejak sekarang engkau menjadi sosok yang paling aku cintai dibanding diriku sendiri.’ Nabi Saw memungkas, “Sekarang, engkau benar, wahai ‘Umar.” (HR. Bukhari).

Kita tidak hanya dituntut untuk percaya kepada Nabi Muhammad Saw tapi juga mengikuti bahkan mencintai beliau. Cinta terhadap nabi tidak menafikan cinta terhadap terhadap sanak keluarga, harta dan diri sendiri dan lain sebagainya. Baca juga…

Syekh Mutawalli as Sya’rawi menyebutkan bahwa cinta itu artinya menghadapkan qalbu dengan yang dicintai. Cinta ada dalam dua kondisi, pertama cinta akal, kedua cinta hati.

Cinta akal itu memilihnya karena ada manfaat, seperti orang yang sakit cinta kepada obat yang pahit. Orang ini tidak mencintai obat dengan hatinya, sebenarnya dia tidak suka. “saya mencintai dengan akalku karena tahu dengan obat ini sebab kesembuhan”. Inilah yang disebut cinta akal. Akan tetapi cinta hati itu tidak memerlukan petunjuk akal, seperti orang tua yang mencintai anaknya meskipun bodoh.

Ketika sayyidina Umar mengatakan bahwa ia mencintai nabi melebihi harta dan anaknya, tetapi tidak melebihi cintanya terhadap diri sendiri. Nabi tetap menegaskan bahwa tidak sempurna iman seseorang hingga aku lebih dicintai dari dirinya.

Ketika itu sayyidina Umar tahu, bahwa cinta terhadap nabi ini tidak bisa ditawar tawar. Maka pada saat itu sayyidina Umar memaksa hatinya. “Sekarang saya mencintai engkau wahai Rasulullah” padahal cinta hati tidak bisa dipaksakan, seolah pada saat itu sayyidina Umar memilih cinta terhadap nabi dengan akalnya. Sayyidina Umar berpikir, kalau tidak karena Rasulullah tentu aku masih dalam jahiliah, dan itu tentu bencana besar. Maka beliau mencintai Rasulullah dengan akalnya. Dan cinta akal ini bisa naik menjadi cinta hati.

Maka dari sini, kita bisa tarik pelajaran bahwa sebagai orang yang beriman mesti cinta terhadap nabi. Cinta terhadap nabi ini mesti ditanamkan sejak dini terhadap anak-anak kita meskipun diawali dengan cinta akal.

Di sinilah pentingnya kita mengenalkan nabi Muhammad Saw secara lebih dekat, baik melalui cerita, akhlak, pesan-pesan moral nabi Saw, praktik sunah nabi di rumah sehingga tumbuh cinta di dalam qalbu anak-anak kita.

#cinta #rasulullah #qalbu

Rekomendasi
Komentar
Loading...