Cara Memantapkan Tauhid

Firah dasar manusia adalah bertauhid. Tidak ada penduduk bumi meskipun dari orang tua yang sama memiliki fisik dan sifat yang seratus persen sama. Manusia unik, ketunggalan-Nya mewujud dalam ciptaan-Nya.

Manusia memiliki dua dimensi, basyariah dan ruhaniah. Diri yang berwujud basyar berasal dari pertemuan sperma dan ovum. Hingga akhirnya terbentuklah tubuh jismaniah.

Sementara ruh bersumber dari sebagian ruh koleksi-Nya. Dihadirkan ke muka bumi, masuk dan menyatu ke dalam tubuh. Inilah sejatinya manusia. Inti dari ruh adalah qalbu. Pada saatnya nanti ruh akan berpisah dengan tubuh, kembali menghadap Allah swt untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan di dunia.

Bertauhid melahirkan sikap ikhlas, orientasi hidup hanya semata karena Allah swt. Tauhid menjadi modal penting untuk melakukan kebaikan, apapun bentuknya. Karena dengan ketauhidan terjadi pemurnian tujuan dan rasa dari perbuatan.

Bagaimana cara kita memantapkan tauhid?

Memperbanyak ucapan kalimat Lā ilāha illā Allāh. Hakikat diri manusia adalah diri yang berwujud ruh, maka ucapan Lā ilāha illā Allāh harus bisa dimasukkan ke dalam ruh. Inilah kalimat ikhlas.

Orang yang terbiasa mendawamkan kalimat ini akan memiliki tujuan dan orientasi hidup hanya kepada Allah swt. Pada diri orang ini akan muncul akhlak yang baik, kemampuan mengendalikan diri dari dorongan hawa nafsu dan godaan setan, selalu muncul optimisme dalam hidupnya dan ke mana pun dia melangkah selalu memberikan manfaat kepada orang lain.

Setelah Ramadhan, sudah seharusnya ketauhidan terus diamalkan. Keberhasilan pelatihan ibadah di bulan Ramadhan dinilai juga dari aktivitas ibadah pasca Ramadhan atau 11 bulan setelahnya. Apakah pasca Ramadhan menjalankan puasa sunah? masih menunaikan shalat malam, tilawah, sedekah, zakat dan muhasabah?

Kita perlu sadar akan selalu ada gangguan untuk melemahkan kita beribadah kepada-Nya. Cara terbaik untuk mengikis gangguan tersebut adalah dengan memperbanyak dzikrullah, memperbanyak ucapan Lā ilāha illā Allāh seperti yang diajarkan Pangersa Guru Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin (qs).

(Ustadz Rojaya M.Ag., Kaprodi Akhlak dan Tasawuf Fakultas Dakwah AILM Suryalaya. Diambil dari Program Ramadhan 1441 H, Sahur Bersama Ustadz, kerjasama RRI dengn LDTQN Pontren Suryalaya)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...